;
Awal mula perjalanan ini sebenarnya cukup sederhana, berawal dari sebuah tenda kecil di pinggir jalan dan satu unit gerobak franchise ayam goreng yang saya sewa. Saat itu, modal yang saya miliki sangat terbatas, tetapi keinginan untuk memiliki usaha sendiri jauh lebih besar daripada rasa takut akan kegagalan. Setiap hari, dari sebelum matahari terbit, saya sudah sibuk mempersiapkan bahan-bahan, memotong ayam, hingga meracik bumbu. Malam harinya, saya berdiri berjam-jam di depan wajan panas, menghadapi asap minyak dan hawa gerah demi melayani pembeli yang datang satu per satu.
Pada masa-masa awal itu, berjualan franchise memberi saya banyak pelajaran berharga tentang operasional harian. Namun, seiring berjalannya waktu, timbul rasa penasaran di dalam diri saya. Saya merasa cita rasa ayam yang saya jual masih terlalu umum dan belum memiliki identitas yang kuat. Saya ingin menyajikan sesuatu yang lebih istimewa—sesuatu yang membuat orang langsung mengenali rasanya hanya dalam satu gigitan.
Keinginan tersebut memicu saya untuk mulai bereksperimen sendiri di dapur rumah setelah gerobak tutup di malam hari. Selama berbulan-bulan, dapur kecil saya menjadi laboratorium eksperimen. Berbagai kombinasi rempah lokal saya coba, mulai dari takaran bawang, racikan cabai khas, hingga teknik pemolesan bumbu rahasia. Tidak sedikit kegagalan yang saya alami; kadang rasanya terlalu asin, dagingnya kurang meresap, atau teksturnya kurang renyah. Namun, pantang menyerah adalah kunci. Hingga akhirnya, saya berhasil menemukan satu resep otentik yang tidak hanya gurih meresap sampai ke tulang, tetapi juga memiliki aroma khas yang sangat memikat.
Dengan keberanian penuh dan sisa tabungan yang ada, saya memutuskan untuk melepas kemitraan franchise tersebut dan berdiri di atas kaki sendiri. Nama RajAyam dipilih bukan tanpa alasan mendalam. Nama ini diambil langsung dari identitas saya sendiri, yaitu nama belakang saya, Orient Dzikri Arraja. Kata “Arraja” yang bermakna harapan dan kepemimpinan saya padukan dengan kata “Ayam”, melahirkan merek RajAyam. Nama ini menjadi doa, dedikasi pribadi, sekaligus visi besar: sebuah harapan agar usaha kecil ini kelak bisa tumbuh menjadi “raja” di industri kuliner olahan ayam.
Langkah awal berdiri sebagai merek mandiri tentu tidak langsung berjalan mulus. Tantangan berat sempat menghampiri, mulai dari sepinya pembeli di awal peluncuran hingga masa-masa sulit saat ekonomi goyah. Namun, konsistensi rasa dan kualitas pelayanan menjadi senjata utama. Saya mulai membagikan sampel gratis kepada tetangga dan pelanggan setia untuk meminta masukan tulus. Perlahan tapi pasti, kabar tentang kelezatan resep khas RajAyam mulai menyebar dari mulut ke mulut.
Antrean di kedai kecil kami mulai mengular setiap jam makan siang dan makan malam. Dorongan dari para pelanggan setia itulah yang akhirnya memberi saya keberanian untuk melakukan ekspansi besar: merekrut tim pertama dan mengubah kedai pinggir jalan menjadi sebuah restoran yang nyaman, bersih, dan modern tanpa menghilangkan cita rasa otentiknya.
Kini, melihat logo RajAyam terpampang megah di depan restoran membawa rasa haru yang mendalam. Tempat yang dulunya hanya impian di atas kertas, sekarang telah menjadi salah satu destinasi kuliner ayam ternama yang selalu dipadati pengunjung. Lebih dari sekadar tempat makan, restoran ini adalah panggung dari sebuah perjalanan, ketekunan, dan identitas diri. Setiap piring yang kami sajikan hari ini adalah wujud rasa syukur atas perjalanan panjang dari gerobak sederhana hingga menjadi RajAyam yang dikenal luas.